Posted by: Iwan | July 11, 2014

Umur yang Barokah

Rasulullah saw bersabda, “Manfaatkanlah kesempatan yang lima, sebelum (datang) lima yang lainnya, yaitu: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang fakirmu, masa hidupmu sebelum matimu, dan masa senggangmu sebelum datang kesibukanmu.”

Waktu

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Waktu berlalu bergitu cepat, tanpa terasa usia manusia terus bertambah, dan sesungguhnya lama hidup manusia di dunia memiliki keterbatasan sesuai ketetapan takdir Allah Yang Maha Kuasa.

Oleh karenanya, makna dari umur yang barokah adalah bagaimana kita dapat mensyukuri setiap karunia, rahmat, dan hidayah yang Allah limpahkan kepada kita.

Nabi Muhammad saw mengambarkan kualitas usia seorang manusia dengan sangat indah, “Pada hari kiamat dibukakan kepada manusia pada setiap hari dari umurnya sebanyak 24 khazanah (lemari) atau sebanyak bilangan jam sehari semalam. Ada khazanah yang dipenuhi dengan cahaya dan kebahagiaan sehingga ketika menyaksikannya akan merasa senang dan bahagia. Sekiranya khazanah itu diperlihatkan kepada ahli neraka, mereka tidak akan merasakan pedihnya siksa neraka. Itulah saat-saat ketika ia mentaati perintah Allah. Kemudian ada khazanah lain yang gelap gulita dan baunya menyengat sehingga ketika menyaksikannya akan merasa takut. Sekiranya khazanah itu diperlihatkan kepada ahli surga, hilanglah segala kenikmatan surga. Itulah saat-saat ketika orang menjauhi perintah Allah. Kemudian ada khazanah lain yang terlihat kosong sehingga ketika menyaksikannya tidak ada yang membuatnya gembira atau berduka cita. Itulah saat-saat ketika ia tidur dan sibuk dengan urusan dunia yang mubah. Ketika melihatnya, hati dipenuhi penyesalan dan kekecewaan. Karena sesungguhnya ia telah kehilangan waktu yang seharusnya dapat diisi dengan kebajikan dan ibadah kepada Tuhannya. Inilah yang disebut hari penyesalan.”

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruknya manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”

Dalam hadist disebutkan bahwa usia umat Rasulullah saw tidaklah sepanjang usia umat-umat terdahulu, yaitu antara 60 sampai 70 tahun. Namun demikian, Allah swt dengan kasih sayangNya telah menganugerahkan banyak keutamaan kepada manusia untuk mengisi usia yang singkat, diantaranya anugerah bulan Ramadhan dengan lailatul qadar, bulan Rajab dengan Isra’ Mi’raj, bulan Sya’ban dengan malam nisfu sya’ban, dan bulan Dzulhijjah dengan hari Arafah. Keutamaan itulah yang Allah berikan bagi umatNya di dunia untuk mendapat barokah dan keselamatan lahir dan batin di dunia dan akhirat.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa dia gunakan, (2) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan, (3) tentang hartanya, dari mana harta tersebut dia dapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, (4) tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.”

Umur adalah perkara ghaib dan merupakan rahasia Allah. Karena ketidaktahuan manusia tentang usianya, Allah memberikan kepada manusia sebuah senjata berupa doa. Doa ada senjatanya orang mukmin, karena dengan doa segala perencanaan buruk yang akan terjadi dapat terhindari.

Demikian pentingnya umur yang barokah bagi manusia, Rasulullah saw mempertegas dalam sabdanya, “Barangsiapa yang umurnya sudah melebihi 40 tahun, sedangkan kebaikannya tidak lebih banyak dari keburukannya, hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka.”

Tidak ada waktu yang tersia-sia dalam hidup seorang hamba, itulah umur yang membawa barokah. Seorang muslim sejati pastilah menginginkan umur yang barokah, yaitu umur yang senantiasa diisi kepada kemanfaatan dunia dan akhirat, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Dengan keterbatasan usia yang ditakdirkan, mari senantiasa memperbaiki diri dengan meningkatkan nilai ibadah dan menggapai rahmat dan karunia Allah semata, sehingga kita memiliki hati yang selalu syukur, harta yang halal, dan umur yang barokah.

Rasulullah saw bersabda, “Amal sholeh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Amal sholeh aku pun juga tidak cukup” Lalu para sahabat kembali bertanya, “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Rasulullah saw menjawab, “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan karunia Allah semata.”

Wallahu a’lam bish-shawabi

Posted by: Iwan | June 10, 2013

Sholawat Membawa Kemuliaan

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Sholawat kepada Nabi Muhammad saw adalah salah satu ibadah atau amalan yang ringan namun memiliki keutamaan yang sangat besar. Sholawat adalah ibadah yang tidak berbatas alam, jarak, dan waktu. Sholawat mampu menembus alam langit dan alam kubur, terdengar oleh malaikat, sehingga mereka akan menyampaikan doa bagi manusia yang mengucapkannya.

Sholawat kepada Nabi Muhammad saw merupakan jenis ibadah yang diamanahkan oleh Allah kepada umat Islam, dimana Allah dan para malaikat turut bersholawat kepada Nabi Muhammad saw, seperti yang difirmankan dalam QS Al-Ahzhab 56:

“Innallaha wa malaaikatahu yushollu ‘alannabiyyi ya ayyuhalladzhina amanu shollu ‘alaihi wasallimu tasliima.

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah bersholawat kepadanya 10 kali sholawat, dihapuskan darinya 10 kesalahan, dan ditinggikan baginya 10 derajat.”

Dari Fadholah bin ‘Ubaid r.a, bahwa Rasulullah saw mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya dan tidak bersholawat kepada Nabi saw, maka Beliau saw bersabda “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian Rasulullah saw berkata kepadanya, “Apabila salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah dia memulainya dengan memuji Allah dan mengagungkanNya, kemudian bersholawatlah kepada Nabi, lalu berdoalah dengan apa yang dia kehendaki.”

Makna sholawat Allah kepada Nabi merupakan pujian dan sanjungan Allah kepada Nabi di hadapan para malaikat yang berada di sisiNya. Sedangkan makna sholawat para malaikat kepada Nabi dan orang-orang yang beriman adalah sebuah doa untuk kebaikan dan permohonan ampunan kepada Allah bagi Nabi saw dan hambanya yang beriman.

Sholawat atas Nabi saw memiliki barokah dan fadhilah yang sangat besar untuk kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Disamping itu, sholawat juga merupakan sebuah kecintaan dan pengharapan untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad saw di hari akhir kelak.

Rasulullah saw bersabda “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail a.s telah berkata kepadaku:

Berkata malaikat Jibril a.s: “Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca sholawat kepadamu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”

Berkata malaikat Mikail a.s: “Mereka yang bersholawat kepadamu, akan aku beri mereka minum dari telagamu.”

Berkata malaikat Isrofil a.s: “Mereka yang bersholawat kepadamu, akan aku sujud kepada Allah dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah mengampuni orang itu (yang bershalawat).”

Lalu, berkata malaikat Izrail a.s: “Bagi mereka yang bersholawat kepadamu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi.”

Demikian para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bersholawat ke atas Rasulullah saw.

Diceritakan ulama besar Sufyan Ats-Tsauri manakala sedang tawaf mengelilingi Ka’bah, beliau melihat seorang lelaki yang selalu membaca sholawat di setiap langkah kakinya.

Bertanya Sufyan Ats-Tsauri: “Sesungguhnya engkau telah meninggalkan bacaan Tasbih dan Tahlil, sedang engkau hanya bersholawat atas Nabi saw, apakah ada alasan yang khusus bagimu untuk mengamalkannya?”

Lelaki itu berkata: “Seandainya engkau bukanlah orang yang istimewa, niscaya aku tidak akan memberitahukan masalah ini dan menunjukkan rahasiaku ini.”

Lalu, lelaki itu bercerita kepada Sufyan Ats-Tsauri:

Sewaktu aku mengerjakan Haji bersama ayahku, beliau meninggal dan aku melihat wajahnya tampak hitam kelam. Saat tertidur, aku bermimpi melihat ada seorang yang sangat tampan dan bersih sedang mengusap wajah ayahku, lalu seketika wajah ayahku yang kelam berubah menjadi putih bersinar.

Ketika beliau beranjak pergi, aku pegang pakaiannya sambil bertanya: “Wahai hamba Allah siapakah engkau? Bagaimana bisa karena Anda, Allah menjadikan wajah ayahku itu menjadi putih di tempat yang istimewa ini?”

Lelaki itu menjawab: “Apakah engkau tidak mengenali aku? Aku adalah Muhammad bin Abdullah yang membawa Al-Qur’an. Sesungguhnya ayahmu termasuk orang yang melampaui batas (banyak berbuat dosa). Namun ia banyak membaca sholawat atasku. Ketika ia berada dalam suasana yang demikian, ia meminta pertolongan kepadaku maka akupun memberi pertolongan kepadanya. Karena aku suka memberi pertolongan kepada orang yang bersholawat atasku.”

Ketika terbangun dari tidur, aku mendapati wajah ayahku berubah menjadi putih bersinar bagaikan bulan purnama.”

Sejak saat itulah aku tidak berdoa selain memperbanyak sholawat atas Rasulullah saw.”

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah ke khadirat Nabi saw, beserta seluruh keluarganya yang suci, para sahabat, serta para pengikutnya yang setia dan jujur mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.

Posted by: Iwan | January 27, 2013

Haji dan Gerak Hati

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Islam dibangun atas lima dasar: bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan.”

Dalam surat Ali Imran 97, Allah berfirman: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Hakikat haji adalah perjalanan ruhani seorang hamba menuju Allah. Oleh karenanya, setiap rangkaian ibadah haji mengandung makna dan hikmah tersendiri yang mengantarkan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Pelaksanaan ibadah haji harus sesuai syari’at yang didahului oleh niat ikhlas karena Allah semata. Maka, setiap rangkaian ritual haji wajib diikuti gerak hati yang menentukan amal ibadah seorang hamba di sisi Allah.

Bermula dari miqot, seorang hamba wajib menanggalkan pakaian terlarang (maksiat) dan digantikan dengan pakaian taat (ihram), serta meneguhkan niat haji atau umrah karena Allah semata.

Kemudian saat membersihkan diri (mandi), gerak hati seorang hamba juga ditujukan untuk mensucikan diri dari segala dosa, dan berniat meninggalkan sifat ria, munafik, syirik, kufur, serta sifat-sifat buruk lainnya. Ketika ber-ihram, diniatkan untuk mengharamkan diri atas semua yang diharamkan Allah dan membersihkan diri dengan cahaya taubat Allah.

Seorang hamba yang mulai mengikat dirinya dalam ibadah haji, maka saat itulah semua ikatan selain bagi Allah dilepaskan.

Rangkaian ritual ibadah haji akan membuat kecintaan maknawi manusia kepada Sang Pencipta. Setiap gerak ibadah memiliki gerak hati untuk berkomunikasi dan mendekat dengan Sang Khaliq.

Labbaik allahumma labbaik, Labbaika laa syarika laka labbaik
Innal haamda wanni’mata laka wal mulk Laa syariika laka.

Talbiyah memiliki makna yang agung, karena memuat tauhid dan kebesaran Allah, sehingga seorang hamba wajib bersyukur atas segala rahmat dan karunia yang diberikan kepadanya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.”

Ritual haji merupakan kenangan dari sebuah perjuangan ketakwaan Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, dan Siti Hajar kepada Sang Khaliq. Selain itu, Thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, mengingatkan akan perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat, serta pejuang muslimin di masa permulaan Islam. Maka, gerak hati seorang hamba ditujukan untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan  memohon keridhaanNya.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.”

Saat meneguk air zam zam, ditujukan untuk memohon ampunan dosa, ditetapkan iman dan islam, serta keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin di dunia dan akhirat.

Perjuangan Siti Hajar dimaknai dalam ibadah Sa’i, yaitu perjalanan dari bukit Shafa menuju bukit Marwa. Hadirkan hati untuk senantiasa memuja dan memuji Allah serta berharap akan karuniaNya, serta menghadirkan perasaan takut atas adzabNya yang pedih.

Wukuf di padang Arafah adalah intisari haji, yang mencerminkan puncak penyempurnaan ibadah haji. Wukuf merupakan gambaran di padang Mahsyar, dimana semua manusia dikumpulkan menanti pengadilan Allah. Maka, gerak hati seorang hamba ditujukan untuk menghayati ma’rifat atas kebesaran Allah, serta mendalami hakikat ilmu yang akan menghantarkan seorang hamba kepadaNya.

Pada saat mengumpulkan batu (kerikil) di Muzdalifah dan melempar Jumroh, mohon kekuatan dari Allah untuk memerangi iblis, dan berharap semoga Allah telah menyempurnakan ibadah haji yang mulia ini.

Tahallul menjadi penutup rangkaian haji. Dengan taubat nasuha dan ketaatan dalam syari’at dan gerak hati yang sempurna, semoga ibadah haji seorang hamba mampu membebaskannya dari segala kenistaan untuk kembali suci seperti bayi yang baru lahir dan menjadi haji mabrur.

Demikian rangkaian ibadah haji sebagai sebuah revolusi akhlak dalam diri manusia.

Akhir kata, sikap istiqomah dalam taat dan taqwa kepada Allah adalah kunci agar akhlak yang mulia senantiasa tertanam di dalam diri dan menjadi kepribadian diri seorang hamba, yang insya Allah terus berlanjut hingga ajal menjemput.

Wallahu a’lam bish-shawabi

Posted by: Iwan | July 21, 2012

Rahasia Sya’ban

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa beliau bercerita:

“Rasulullah pernah berpuasa sehingga kami katakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami katakan beliau tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dibanding pada bulan Sya’ban.”

“Wahai Rasulullah, mengapa engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” beliau menjawab, “Wahai Aisyah, Sya’ban adalah bulan ketika malaikat maut menandai nama orang yang dicabut nyawanya pada waktu yang tersisa ditahun itu dan aku ingin namaku ditandai saat aku dalam keadaan puasa.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa beliau bercerita:

“Nabi pernah ditanya tentang keutamaan puasa, maka beliau menjawab, “Puasa Sya’ban sebagai pengagungan bagi bulan Ramadhan.”

“Keutamaan bulan Rajab atas semua bulan adalah keutamaan Al-Qur’an atas semua ucapan dan keutamaan bulan Sya’ban atas semua bulan seperti keutamaanku atas semua Nabi dan keutamaan bulan Ramadhan atas semua bulan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhlukNya.”

Dinamai Sya’ban karena ia mengumpulkan bagi bulan Ramadhan kebaikan yang sangat banyak, dan dinamai Ramadhan, karena ia menghanguskan dosa-dosa.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, “Sya’ban adalah bulanku, Rajab adalah bulan Allah, dan Ramadhan bulan umatku. Sya’ban adalah penghapus (dosa) sedangkan Ramadhan sebagai penyuci.”

Rasulullah saw juga bersabda, “Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan, banyak orang-orang yang melupakannya. Pada bulan itu amal perbuatan manusia diangkat menghadap Tuhan semesta alam dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa.”

Sya’ban adalah bulan yang didalamnya semua pintu kebaikan terbuka, berbagai berkah turun, berbagai kesalahan diabaikan dan berbagai kejahatan dihapuskan. Pada bulan itu juga diperbanyak shalawat kepada Nabi SAW, karena ia adalah bulan Nabi.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah saw, beliau bersabda:

“Jibril pernah mendatangiku pada malam pertengahan (nisfu) Sya’ban dan dia berkata kepadaku, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu ke langit.” Kemudian aku bertanya, “malam apakah ini?” Jibril menjawab, “Pada malam ini Allah membuka tiga ratus pintu rahmat, Dia memberi ampunan kepada siapa saja yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, kecuali tukang sihir, dukun, pecandu khamar atu orang yang selalu mengulang-ulang berbuat riba dan zina. Mereka tidak diberi ampunan oleh-Nya hingga mereka bertobat.”

Setelah seperempat malam, Jibril turun dan berkata, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu.”

Maka beliau mengangkat kepalanya dan ternyata pintu-pintu syurga sudah terbuka dan diatas pintu pertama ada malaikat berseru, “Beruntunglah orang-orang yang berdzikir pada malam ini.” Pada pintu kedua ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang bersujud pada malam ini.” Pada pintu ketiga ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang berdoa pada malam ini.” Sedangkan pada pintu keempat ada malaikat yang berseru, “Beruntunglah orang-orang yang manangis karena takut kepada Allah pada malam ini.” Dan pada pintu keenam ada malaikat berseru, “Beruntunglah kaum Muslim pada malam ini.” Pada pintu ketujuh ada malaikat berseru, “Adakah orang yang meminta, pasti akan diberi.” Dan pada pintu kedelapan ada malaikat berseru, “Siapapun yang bertobat, niscaya dia akan diberi ampunan.”

Lalu aku bertanya, “Wahai Jibril, sampai kapan pintu-pintu ini akan terbuka?” Jibri menjawab, “Sampai terbit fajar dari sejak permulaan malam.” Kemudian Jibri berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya pada malam ini Allah akan membebaskan manusia dari neraka sebayak bulu biri-biri.”

Malam nisfu Sya’ban disebut malam bara’ah (pembebasan), karena pada malam itu ada dua pembebasan. Pertama, pembebasan orang-orang yang sengsara dari Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang; kedua, pembebasan para wali dari orang-orang yang hina dina.

Hikmah ditampakannya malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar disembunyikan adalah karena malam Lailatul Qadar merupakan malam penuh rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Malam itu disembunyikan Allah agar mereka tidak membicarakannya. Dan Allah memperlihatkan malam bara’ah, karena malam itu merupakan malam pemberian keputusan. Malam itu merupakan malam kemurkaan dan keridhaan, malam pengabulan dan penolakan, malam kebahagiaan dan kesengsaraan, malam kemuliaan dan kehinaan. Pada malam itu ada orang yang bahagia dan ada pula yang sengsara, ada yang dimuliakan ada pula yang dihinakan. Berapa banyak kain kafan yang dicuci sedang pemakainya masih terus sibuk di pasar. Berapa banyak kuburan yang sudah digali sedang pemiliknya masih terus tertawa padahal mereka sudah dekat dengan kebinasaan. Berapa banyak orang yang berharap syurga tetapi yang tampak padanya adalah petunjuk ke nereka. Berapa banyak orang yang mengharapkan pemberian tetapi memperoleh musibah. Dan berapa banyak orang yang mengharapkan kekuasaan, tetapi justru dia mendapatkan kebinasaan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan laut dari sinar di bawah Arsy, kemudian menciptakan satu malaikat yang mempunyai dua sayap, satu sayapnya di timur dan sayapnya yang lain di barat, sedang kepalanya di bawah Arsy dan dua kakinya di bawah bumi yang ketujuh. Maka, apabila seorang hamba membaca shalawat untuk ku di bulan Sya’ban, maka Allah menyuruh malaikat itu agar menyelam di air hidup. Malaikat itupun menyelam, kemudian keluar dari dalam air serta mengkibaskan sayapnya sehingga berteteslah dari bulunya, tetesan yang banyak sekali. Maka Allah menciptakan dari tiap-tiap tetes air itu satu malaikat yang memohonkan ampunan baginya (orang yang membaca shalawat) sampai hari kiamat.”

Wallahu a’lam bish-shawabi

Posted by: Iwan | June 21, 2012

Menghidupkan Bulan Sya’ban

“Keutamaan bulan Rajab atas semua bulan adalah keutamaan Al-Qur’an atas semua ucapan dan keutamaan bulan Sya’ban atas semua bulan seperti keutamaanku atas semua Nabi dan keutamaan bulan Ramadhan atas semua bulan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhlukNya.”

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah Az Zaahidiy:

Kawan saya Abu Hafshin Al-Kabiir telah meninggal dunia, maka saya juga menshalati jenazahnya dan saya tidak mengunjungi kuburnya selama delapan bulan. Kemudian saya bermaksud akan menengok kuburnya.

Ketika saya tidur di malam hari, saya bermimpi melihatnya dia sudah berubah mukanya menjadi pucat, maka saya bersalam kepadanya dan dia tidak membalasnya.

Kemudian saya bertanya kepadanya, “Maha Suci Allah, mengapa engkau tidak membalas salam saya?” Dia menjawab, “membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah.”

Lalu saya berkata, “Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dahulu berwajah bagus?” Dia menjawab, “ketika saya dibaringkan di dalam kubur, telah datang satu malaikat dan duduk di sebelah kepala saya seraya berkata, “Hai si tua yang jahat, dan dia menghitung semua dosa saya dan semua perbuatan saya yang jahat bahkan dia memukul saya dengan sebatang kayu sehingga badan saya terbakar.”

Kuburpun berkata kepada saya, “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku?” Kemudian kuburpun menghimpit saya dengan himpitan yang kuat sekali sehingga tulang-tulang rusukku menjadi bertebaran dan sendi-sendi tulangkupun menjadi terpisah-pisah sedang saya dalam siksa sampai malam pertama bulan Sya’ban.

Tiba-tiba ada suara mengundang dari atas saya, “Hai Malaikat, angkatlah batang kayumu dan siksamu dari padanya, karena sesungguhnya dia pernah menghidupkan (mengagungkan) satu malam dari bulan Sya’ban selama hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari di bulan Sya’ban.

Maka Allah menghapuskan siksa dari padaku dengan sebab aku memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan berpuasa satu hari di bulan Sya’ban; kemudian Allah memberi kegembiraan kepada saya dengan surga dan kasih sayangNya.

Rasulullah saw bersabda, “Apabila pada malam Nifsu Syaban maka berjagalah kamu pada malamnya bersembahyang, beribadat, puasa kamu pada siangnya.”

Wallahu a’lam bish-shawabi

Posted by: Iwan | June 12, 2012

Menuju Hijrah Hati

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Ketika keimanan sedang tumbuh mencari ridhaNya, Allah akan menguji hambaNya atas  keteguhan dan keyakinan mereka. Maka, ujian adalah salah satu bentuk cinta Allah kepada hambaNya agar lebih mengenal Tuhan-Nya.

Firman Allah dalam QS Al-Ankabuut 2: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi?”

Allah mengajarkan manusia untuk tidak berputus asa dan senantiasa berharap atas ampunanNya. Selama hayat masih dikandung badan, maka harapan untuk memperbaiki diri akan tetap ada, dengan berhijrah dari kegelapan menuju cahaya.

Makna dan hakikat hijrah mengandung arti memisahkan dirinya dari orang lain, baik secara jasmani atau dengan hatinya menuju Allah dan Rasul-Nya. Dalam Islam, hijrah hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim, karena intisari hijrah adalah meninggalkan segala yang dibenci Allah menuju semua yang dicintai Allah.

Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 20-22: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan rahmatNya, keridhaan dan surga; mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang abadi. Mereka kekal didalamnya untuk selamanya; sesungguhnya di sisi Allah (tersedia) pahala yang besar.”

Taubat nasuha termasuk berhijrah, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak terputus hijrah sampai terputus (peluang) bertaubat, dan tidak terputus (peluang) bertaubat sehingga matahari muncul dari arah barat.”

Sebagai tuntutan syahadat Rasulullah saw, hijrah bukanlah perkara yang ringan. Seorang muslim yang meniti hijrah merasa seperti orang asing diantara sekumpulan manusia. Dia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan dalam hidupnya dan menjadi hakim di dalam segala perkaranya.

Allah memberikan janjiNya dalam firman QS An-Nahl 41-42: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar jika mereka mengetahui. (Yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.”

Oleh sebab janji Allah itu, seorang muslim yang menginginkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya tidak akan ragu-ragu untuk meninggalkan segala perkara yang melalaikan dirinya dari mengingat Allah dan Rasul-Nya.

Di antara bentuk hijrah yang paling agung adalah hijrah hati menuju Allah dengan mengikhlaskan ibadah melalui perkataan dan perbuatan untuk meraih keridhaan Allah semata. Tidak mencintai kecuali mencintai Allah dan tidak mencintai kecuali mencintai orang-orang yang di cintai Allah. Begitu pula hijrah kepada Rasulullah saw dilakukan dengan mengikutinya, mendahulukan ketaatan kepadanya, serta beramal dengan apa yang amanahkan dalam ajaran Islam.

Dalam Islam, mengeluarkan hak Allah (zakat) termasuk berhijrah, seperti diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri ra tentang seorang Badui telah datang menemui Rasulullah saw dan bertanya tentang hijrah.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya hijrah itu urusannya sangat sulit. Maka apakah kamu memiliki unta?”

Orang Badui itu menjawab, “Ya.”

Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah kamu mengeluarkan zakatnya?”

Orang Badui menjawab, “Ya.”

Rasulullah saw bertanya lagi, “Apakah kamu memberi sedekah sesuatu darinya seperti memerah susunya?”

Orang Badui menjawab, “Ya.”

Lalu, Rasulullah saw bersabda, “Maka beramallah kamu dari seberang lautan. Sesungguhnya Allah tidak mengabaikan praktek yang kamu lakukan sedikit pun.”

Allah berfirman dalam QS Al-Anfaal 74: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia.”

Hijrah hati menuju Allah dan Rasul-Nya berkaitan dengan keimanan. Kuatnya keimanan ditentukan kuatnya dalam berhijrah, begitupun sebaliknya. Maka, sikap istiqamah diiringi niat yang kuat dan ikhlas karena Allah semata menjadi kunci sukses dalam berhijrah.

Diriwayatkan dari Umar bin Al Khattab ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Wallahu a’lam bish-shawabi

Posted by: Iwan | June 11, 2012

Kedudukan Mursyid

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Ilmu adalah pemimpin amal, sedangkan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.

Sabda Rasululah saw, “barang siapa menghendaki kesuksesan dunia maka wajib atasnya mempunyai ilmu. Barang siapa menghendaki kesuksesan akhirat maka wajib atasnya mempunyai ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kesuksesan hidup di dunia dan akhirat maka wajib atasnya mempunyai ilmu.”

Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu, yang tergambar dalam sabda Rasulullah saw, “Apabila seorang alim meninggal maka terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh seorang alim yang lain.” Oleh sebab itu, Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap guru (mursyid), sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rasul.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang alim memiliki kedudukan yang sangat tinggi apabila bersedia mengamalkan ilmunya. Guru atau mursyid (yang memberi petunjuk) seperti matahari yang menerangi alam, ia mempunyai cahaya dalam dirinya, dan seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain.

Allah berfirman dalam QS Yasin 21: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam pengertiannya, mursyid adalah sebutan untuk seorang guru pembimbing dalam dunia thoriqah (Tarekat artinya: jalan atau cara untuk mengenal Allah), yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid diatasnya yang terus sambung-menyambung sampai kepada guru mursyid Shohibuth Thoriqoh yang berasal dari Rasulullah saw.

Dalam Islam dan ilmu tarekat, mursyid merupakan seorang pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan duniawi agar tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian dan sebagai washilah (perantara) bagi para muridnya agar bisa terhubung dengan Allah. Hal ini sesuai dengan peranan Rasulullah saw di dalam membimbing para sahabat menuju kepada penghambaan kepada Allah.

Demikian tinggi maqom (kedudukan) dalam Islam sehingga seorang mursyid harus memiliki kebersihan rohani dan kehidupan batin yang tulus dan suci.

Adab (etika) antara murid dengan mursyid diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai adab para sahabat terhadap Rasulullah saw. Pada prinsipnya, seorang murid harus menghormati mursyid secara lahir dan batin, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dibenci oleh mursyid.

Rasulullah saw bersabda, “Para ulama itu adalah pewaris para Nabi.”

Hubungan yang sakral antara murid dengan mursyid tidak hanya sebatas kehidupan dunia saja, tetapi senantiasa bertujuan kepada keselamatan di akhirat kelak. Apa yang ada di dalam hati senantiasa tertumpu hanya untuk mencintai Allah semata. Maka, dunia hanyalah ladang akhirat.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan membuat perkaranya berantakan dan menjadikan kemiskinan di depan kedua matanya serta tidaklah datang dunia kecuali yang telah ditentukan kepadanya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan mengumpulkan perkaranya dan dijadikan kaya di dalam hatinya dan dunia akan tunduk kepadanya.”

Oleh karena itu, apabila telah datang seorang mursyid, berpeganglah kuat-kuat kepadanya dan jangan pernah melepaskannya, serta tuntutlah ilmu kepadanya.

Allah berfirman dalam QS Yunus 62-64: “Ketahuilah, sesungguhnya para wali (kekasih) Allah itu tiada kekhawatiran terhadap mereka (selain Allah) dan tidak (pula) bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka yang selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian adalah kemenangan yang besar.”

Peran seorang mursyid merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual seorang murid.

Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah.”

Sabda Rasulullah saw lagi, “Barangsiapa memuliakan orang alim, maka sesungguhnya dia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, sesungguhnya dia telah memuliakan Allah, dan barang siapa yang memuliakan Allah maka surgalah tempatnya.”

Jalan menuju Allah itu bersifat ruhaniah, sedangkan mata lahir dan akal tidak akan mampu melihatnya. Maka, kebersihan hati dengan bimbingan ilmu dari mursyid merupakan yang utama untuk mengapai cinta Allah dan Rasulullah saw.

Wallahu a’lam bish-shawabi

Posted by: Iwan | June 5, 2012

Beriman kepada Qadha dan Qadar

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Ketika seseorang mendeklarasikan diri sebagai seorang Muslim, wajib baginya masuk Islam secara kâffah (utuh).

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 208-209: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.”

Memasuki agama Islam secara utuh berarti melaksanakan dengan ikhlas rukun Islam dan rukun Iman, termasuk diantaranya beriman kepada qadha dan qadar (ketentuan dan takdir).

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw didatangi oleh seorang lelaki yang berpakaian serba putih dan berambut hitam. Lelaki itu bertanya tentang Islam, Iman, dan Ikhsan. Tentang keimanan, Rasulullah saw menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, serta beriman kepada qadar (takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata, “Tuan benar.”

Tak lain, lelaki itu adalah Malaikat Jibril as yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran agama kepada umat Nabi Muhammad saw.

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap diri manusia dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama 40 hari, kemudian menjadi setetes darah selama 40 hari, dan menjadi segumpal daging selama 40 hari. Lalu, diutus kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh pada segumpal daging itu, dan malaikat itu diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: rizki, ajal, amal, serta celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selainNya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga seperti yang tampak pada banyak orang, padahal sebenarnya ia ahli neraka. Dan sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka seperti yang tampak pada banyak orang, padahal ia termasuk ahli surga.”

Maka, umat Muslim senantiasa harus yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan adalah atas kehendak Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra yang ikut dalam peristiwa perang Hunain, tiba-tiba Rasulullah saw bersabda tentang seorang lelaki muslim yang ikut berjuang di peperangan tersebut, “Orang itu termasuk ahli neraka!”

Di saat pertempuran berlangsung dengan hebatnya, lelaki muslim tersebut bertempur dan berjuang dengan gagah perkasa tanpa sedikitpun rasa takut. Walaupun tubuhnya terluka, ia terus menerjang barisan musuh tanpa gentar.

Melihat ketangguhan lelaki muslim tersebut, seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, lelaki muslim yang engkau katakan sebagai ahli neraka telah berjuang fisabilillah dengan gagah perkasa hingga ia terluka parah.”

Rasulullah saw bersabda, “Ia akan masuk neraka.”

Mendengar jawaban Rasulullah saw, para sahabat mulai merasa ragu dengan pernyataan tersebut.

Ketika perang usai, lelaki muslim itu mengalami luka yang sangat parah disekujur tubuhnya. Akibat tak kuasa menahan rasa sakitnya dan tidak mampu pasrah dan bersabar, ia menancapkan ujung pedang didadanya, kemudian menjatuhkan diri sehingga ia mati seketika.

Melihat kejadian tersebut, para sahabat mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh benar apa yang Engkau katakan. Lelaki itu bunuh diri karena tak kuasa menahan rasa sakitnya.”

Rasulullah saw memanggil Bilal dan bersabda, “Wahai Bilal, bangkitlah dan umumkan bahwa tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang pasrah dan yang benar-benar beriman. Dan sesungguhnya ada kalanya Allah mengukuhkan agama (Islam) ini dengan seorang lelaki yang faajir.”

(Faajir adalah kebalikan dari taqwa, dimaknakan sebagai kefasikan atau ditafsirkan sebagai kekafiran yang akan kekal di neraka).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka jahanam selama-lamanya.”

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada satu pun makhluk yang bernyawa, melainkan Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau neraka, melainkan telah ditetapkan baginya celaka atau bahagia.”

Empat perkara telah ditetapkan sebelum manusia lahir ke dunia, namun bahagia atau celaka akan tergantung pada amal dan perbuatan manusia. Amal dan perbuatan dapat menjadi sebab bahagia dunia-akhirat, namun dapat pula menjadi sebab celaka.

Sebanyak apapun amal kebajikan yang telah dilakukan, hendaknya manusia tidak merasa bangga atau sombong, karena manusia tidak akan tahu dengan amal apa (baik atau buruk) dia mengakhiri hidupnya. Demikian pula sebaliknya, sebanyak apapun kejahatan yang telah dilakukan, hendaknya manusia tidak boleh putus harapan atas rahmat dan ampunan Allah.

Bersabda Rasulullah saw, “Tidak ada yang dapat menolak taqdir Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah umur seseorang selain amal yang baik.”

“Ya Allah, ampunilah dosaku yang terdahulu dan dosa kemudian yang belum dilakukan, dosa yang kulakukan secara sulit tersembunyi dan dosa yang kulakukan secara terbuka, sebanyak mana yang Engkau ketahui. Sesungguhnya atas Engkau Yang Berkuasa penuh atas segala sesuatu.”

Wallahu a’lam bish-shawabi

 

Posted by: Iwan | May 31, 2012

Menggapai Bulan Allah

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram (artinya bulan yang dimuliakan). Tiga bulan haram lainnya, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Tentang bulan haram, Al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Keutamaan bulan Rajab juga ditandai oleh peristiwa isra’ dan mi’raj Rasulullah saw yang terjadi di bulan Rajab, dimana perintah melaksanakan shalat 5 waktu sehari semalam  telah diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad saw.

Maka, bulan Rajab merupakan momentum yang tepat bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta melalui peningkatan kualitas ibadah kepada Allah.

Rasulullah saw juga bersabda, “Pada malam mi’raj, aku melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu, dan lebih harum dari minyak wangi.” Lalu Rasulullah bertanya pada Jibril as, “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini?” Maka berkata Jibril as, “Ya Muhammad, sungai ini adalah untuk orang yang membaca shalawat untuk engkau di bulan Rajab.”

Diriwayatkan oleh Tsauban, ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah saw ke sebuah kubur, lalu Rasulullah saw berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian kami melihat Rasulullah saw berdoa kepada Allah.

Lalu saya bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, mengapakah engkau menangis?”

Rasulullah saw bersabda, “Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kuburnya, dan aku berdoa kepada Allah, lalu Allah meringankan siksa atas mereka.”

Lalu, Rasulullah saw bersabda lagi, “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab, niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur.”

Tsauban bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat terhindar dari siksa kubur?”

Sabda Rasulullah saw, “Wahai Tsauban, demi Allah Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena Allah, kecuali Allah mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”

Bersabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan Aku, dan bulan Ramadhan adalah bulan umatKu. Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, bulan Sya’ban, dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.”

Mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab, diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib ra dari Rasulullah saw, “Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rajab dengan ikhlas karena Allah semata, maka ia mendapat keridhaan yang besar dari Allah, barang siapa berpuasa dua hari di bulan Rajab, maka ia mendapat kemuliaan di sisi Allah, Barangsiapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, maka Allah akan menyelamatkannya dari bahaya dunia dan siksa akhirat, barangsiapa berpuasa lima hari dalam bulan Rajab, maka segala permohonannya akan dikabulkan, barangsiapa berpuasa tujuh hari dalam bulan Rajab, maka ditutupkan tujuh pintu neraka jahanam, barangsiapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab, maka akan dibukakan delapan pintu surga, dan barangsiapa berpuasa lima belas hari di bulan Rajab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan semua kejahatannya dengan kebaikan, dan barangsiapa yang menambah (hari-hari puasa) maka Allah akan menambahkan pahalanya.

Selanjutnya diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi ra dari Rasulullah saw, “Barang siapa berpuasa 1 hari bulan Rajab, seolah-olah dia telah berpuasa 1.000 tahun dan seakan dia telah memerdekakan 1.000 budak. Barangsiapa bersedekah pada bulan Rajab, seolah-olah dia bersedekah dengan 1.000 dinar. Lalu ditetapkan dari setiap rambut yang ada pada tubuhnya dengan 1.000 kebaikan, dan diangkat 1.000 derajat, dihapuskan darinya 1.000 keburukan, dan ditetapkan baginya pada setiap hari yang dia gunakan untuk berpuasa dan bersedekah itu dengan 1.000 haji dan 1.000 umroh, serta dibangunkan baginya di surga 1.000 rumah, 1.000 istana, dan 1.000 kamar.”

Menutup uraian tentang ‘Menggapai Bulan Allah’ ini, marilah kita menbaca “Robbigfirli war hamni wa tub‘alayya innaka antat tawwabur rohim.” (Ya Allah, ampunilah dan sayangilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima Taubat dan Maha Penyayang).

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Posted by: Iwan | May 30, 2012

Pribadi yang dicintai Allah

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

Shalat merupakan ibadah yang diwajibkan lima waktu sehari semalam atas umat Nabi Muhammad saw. Kewajiban atas shalat telah diterangkan dalam hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah ra, ia berkata:

Seorang penduduk Najd telah datang menghadap Rasulullah saw dengan keadaan rambutnya yang kusut. Kami mendengar gaung suaranya, namun kami tidak paham apa yang dikatakannya hingga ia pun mendekati Rasulullah saw dan bertanya tentang Islam.

Rasulullah saw bersabda, “Islam adalah shalat lima waktu sehari semalam.”

Orang Najd itu bertanya lagi, “Masih adakah shalat lain yang diwajibkan kepadaku?”

Rasulullah saw menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukannya secara sukarela yaitu shalat sunnah. Seterusnya engkau hendaklah berpuasa pada bulan Ramadhan.”

Lalu, orang Najd bertanya lagi, “Masih adakah puasa lain yang diwajibkan kepada ku?”

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukannya secara sukarela yaitu puasa sunnah.” Beliau melanjutkan sabdanya, “Islam adalah membayar zakat.”

Kemudian lelaki tersebut bertanya lagi, “Adakah terdapat zakat lain yang diwajibkan kepadaku?”

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin mengeluarkannya secara sukarela yaitu sedekah.”

Kemudian lelaki itu berpaling sambil berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambah dan menguranginya.”

Lalu, Rasulullah saw bersabda, “Dia amat beruntung jika menepati apa yang telah diucapkannya.”

Dari riwayat diatas disimpulkan bahwa orang-orang yang menunaikan ibadah wajib dengan sempurna tergolong hamba-hamba yang mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang menunaikan ibadah wajib dan menambah dengan ibadah sunnah tergolong hamba-hamba yang dicintai Allah.

Firman Allah dalam hadist qudsi:

“Dan, tiada bertaqarrub (mendekat) kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Kusukai daripada menjalankan kewajibannya. Dan, tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Kalau Aku mencintainya, maka Aku bersama dengannya untuk apa yang akan didengarkannya. Dari tangannya yang ia pergunakan untuk bekerja, maka Aku akan senantiasa menjadi kakinya dan selalu berjalan mengiringinya. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya ia akan Kuberi. Dan jika ia meminta perlindungan-Ku, niscaya pula Aku akan selalu melindunginya.”

Wallahu a’lam bish-shawabi

Older Posts »

Categories